Minggu, 02 Maret 2014

Gara-Gara Robin, Aku Jadi Gendut ^_^

Waktu itu secara tidak sengaja, teman satu kantorku menawariku untuk menggantikannya menjadi team Robin. Ya, ini adalah salah satu istilah di kantorku untuk menyebutkan team dengan jadwal kerja yang tetap, yaitu dari jam 18.30-03.30. Wow banget, bukan?

Yeah, mungkin banyak diantara kalian yang belum tahu dengan sistem kerja di kantorku. Sebagai salah satu perusahaan yang bergerak dibidang customer service pertelekomunikasian yang harus selalu melayani pelanggan selama 24 jam, kantor kami memang menerapkan sistem shift. Berawal dari shift paling pagi yaitu jam 05.00 sampai shift malam jam 19.00. Diantara shift-shift itu, ada dua diantaranya yang jamnya tetap. Dan mereka yang terdaftar di shift-shift itu dinamai dengan team Robin dan team Batman.

Baiklah, kembali ke soal tawaran temanku tentang team Robin. Akhirnya aku menerimanya. Masih dengan perasaan yang setengah yakin dan setengah nggak yakin tentunya, karena harus masuk kerja dari malam semenjak matahari tenggelam sampai matahari hampir terbit. Sekali lagi aku ulang sodara-sodara, sejak matahari tenggelam sampai hampir terbit. Huft...baru membayangkannya saja bulu kudukku sudah bergidik. Seolah-olah merasakan betapa ngantuknya mata ini kalau musti melek 9 jam di malam hari. Merasa seperti burung hantu atau sejenis kelelawar yang hidupnya di malam hari.

Hari pertama kulalui dengan selamat. Dengan rasa yang nggak karuan tentunya karena biasanya jam 10 saja aku sudah tertidur lelap dibalik selimut. Hari kedua, ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya kulalui dengan lancar jaya juga. Aku mulai merasa bangga karena bisa menaklukan ketakutanku yang mungkin nggak bisa begadang malam. Bahkan, kali ini aku sudah mulai pintar beradaptasi dengan jam kerjaku yang memang special itu.

Setelah dua minggu aku berada didalam team Robin, akupun mulai merasa nyaman. Dengan jam kerjanya yang teratur, porsi kerjanya yang nggak terlalu berat, teman-teman kerja yang menyenangkan, serta makanan dan minuman yang memang telah disediakan oleh kantor. Nah, kedua hal terakhir ini sebenarnya yang membuatku merasa kerasan.  

Akupun menikmati pekerjaanku dengan pola waktu yang baru. Semua kegiatanku menjadi teratur. Mulai dari tidur, makan,mengurus kerjaan sampai dengan kegiatan kencan. Memang aku merasa nyaman. Tapi sebenarnya ada satu hal yang sungguhsungguh diluar dugaan. Ya, berat badanku. Aku merasa ada yang berbeda dengan tubuhku. Ketika mulai kukenakan baju, ada beberapa yang terasa begitu sempit. Apa kaerna bajunya yang mengkerut karena lama tak dipakai? Atau karena badanku yang justru melebar pikirku? Ahh, masih samar-samar ku pikirkan.

Lalu kemarin, ketika tanpa sengaja aku mengantar temanku ke apotek, iseng-iseng saja kunaiki timbangan yang ada di dekat pintu. Dan hasilnya, waaooowwww...berat badanku naik 4kg. Ya...beratku kini menjadi 47kg. Berat yang membuatku terlihat gendut, bukan???

Jumat, 14 September 2012

Aku dan Keluargaku...


Tita itu nama panggilanku. Nama indah yang diberikan kedua orang tuaku ketika aku pertama kali menghirup indahnya udara dunia. Saat itu, hari jum’at 30 november 1990. Tita terlahir sebagai sesosok bayi mungil yang membawa harapan begitu besar.
Aku cukup bangga terlahir sebagai seorang Tita. Aku mempunyai orang-orang yang begitu menyayangiku, begitu mencintai dan memperhatikanku. Ayah, ibu, adik, teman-teman, serta sahabat-sahabatku.
Hingga saat ini, aku tak henti-hentinya bersyukur kepada Yang Kuasa karena telah menempatkanku di tengah-tengah keluarga yang begitu menyenangkan. Dan sekarang, aku ingin mengenalkan mereka yang sangat berarti diperjalanan hidupku.

Ayah Tita
Ia adalah sosok ayah yang sangat bertanggung jawab. Ia tidak pernah lelah mencari nafkah untuk kami keluarganya. Cara berfikirnya yang begitu kritis membuat ia selalu cepat tanggap menghadapi setiap masalah. Sifatnya yang keras membuat ia disegani dikeluarga kami. Meskipun kadang-kadang  ia bertindak kasar, tapi aku tau, ia tidak pernah mengurangi rasa sayangnya kepada kami. Aku sangat sangat menyayangi, mencintai serta menghormatinya..selayaknya seorang prajurit yang mengormati jenderalnya.

Ibu Tita
Jika kau tanyakan siapakah orang yang paling berpegaruh dalam hidupku? Maka aku akan menjawabnya mama. Ya…mama. ..ibuku…
Ia adalah orang yang selalu berdiri dibelakangku..menunjukan kemana aku harus melangkah. Sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa kehadiran serta kasih sayangnya. Aku bisa berdiri tegar sampai saat ini, semua karena beliau. Ia yang selalu memberiku semangat, selalu dan selalu…tanpa pernah lelah.
Ia mempunyai kisah hidup yang sangat menggetarkan hati. Ibunya meninggal ketika ia baru dilahirkan. Dan ia harus rela dijodohkan ketika usianya baru menginjak 15 tahun… Tapi..ibuku adalah wanita yang tegar. Ia tak pernah gentar menghadapi apapun. Aku tau ia sangat sangat sangat menyayangiku. Dan yang terpenting, mama adalah motivasi terbesarku dalam menggapai impian-impianku.

Ani, adek Tita
Nama aslinya Yuni. Ani adalah panggilan sayang keluarga kami untuknya. Ia kini 18 tahun.
Ani…ia selalu mempunyai yang lebih daripada aku. Tinggi, cantik, pintar, langsing..tubuh ideal idaman banyak wanita. Kadang aku ngerasa iri juga sama dia. Tapi…itu sama sekali tidak penting. Dia adalah saudara perempuanku satu-satunya. Aku sungguh menyayangi dia seperti aku menyayangi diriku sendiri. Aku tau, ia kurang beruntung dalam soal cinta. Ia mencintai orang yang mungkin tidak tau kalau ia dicintai. Awalnya mereka cukup dekat, tapi kini orang itu jauh, semakin jauh darinya. Aku ingin berbuat sesuatu untuk dia. Tapi apa?? Aku hanya bisa berdoa. Semoga Ani adek-ku diberikan katabahan yang lebih. Semoga beban-beban yang ada dipikirannya tidak menjadi penghalang cita-citanya.

Bambang, adek Tita
Dia lucu banget. Adekku yang terakhir. Dia lahir pada tanggal 12 februari 2002. Adek yang biasanya kupanggil dengan sebutan bebeb Bambang adalah sosok anak terakhir yang ditunggu-tunggu keluarga kami..karena ayah dan ibuku sangat menginginkan anak laki-laki. Dan impian itu akhirnya dapat terwujud dengan kehadirannya yang melengkapi keluarga kami. Kini, ia mulai tumbuh besar dan siap menjemput masa remajanya.
Aku sangat menyayanginya. Entah kenapa, walaupun ia sudah tumbuh besar, aku dan Ani adikku tetap menganggapnya adik kecil kami yang lucu, yang imut dan manis dengan segala tingkah polahnya. Panggilan sayang “bebeb” yang kami berikan kepadanya adalah salah satu wujud kecintaan kami terhadapnya.

Well, itulah keluargaku. Keluarga dimana aku tumbuh dan dibesarkan. Kelurga yang selalu menyayangi dan mendukungku untuk terus dan terus maju. I love you all. . .^_^